Posts

Kopi aneh

Dua hari yang lalu seorang teman di kantor berbaik hati memberi saya sekantung kopi Bali Exotic Coffee. Dari namanya mungkin ini memang kopi asal Bali, walaupun dari keterangannya diproduksi di Makassar. Saya belum pernah minum kopi ini sebelumnya, dan cukup bersemangat untuk mencicipinya.Maka saya siapkanlah gelas di dapur, saya takar kopi dan gula dengan perbandingan 1,5:1,5 sendok. Saya panaskan air hingga mendidih, lalu menuangkannya ke gelas tadi.Agar rasa kopi lebih terasa, saya terbiasa meninggalkannya dulu selama kurang lebih 5 menit. Hitung-hitung sambil ngecek keadaan anak yang sedang bermain di ruang depan.Setelah 5 menitan berlalu, saya kembali dan ambil gelas kopi tadi sambil mencari posisi yang enak untuk sesi merokok sambil ngopi.Setelah merasa posisi duduk cukup nyaman, saya pandang sekilas kopi tadi dan berharap merasakan kopi dengan rasa baru yang unik.Saya seruput perlahan karena khawatir airnya masih terlalu panas.Saya rada termenung. Panas airnya pas. Tapi rasanya…

Experiencing is understanding

Image
Untuk mempercayai sesuatu, kadang orang berpegang pada idiom seeing is believing. Dibutuhkan sebuah bukti yang bisa dilihat untuk mempercayainya. Untuk meyakini sesuatu, kadang kita butuh sesuatu yang lebih dari apa yang terlihat. Butuh sesuatu yang berada dalam suatu lapisan mental, suatu kepercayaan (trust) pada suatu hal yang biasanya disemai melalui rangkaian panjang berbagai tindakan dan aksi, mungkin sebuah kultur. Untuk memahami suatu hal secara utuh, melihat saja tentu tidak cukup. Seorang suami yang melihat proses melahirkan istrinya tentu saja boleh berkata, “saya paham proses melahirkan itu menyakitkan”, tetapi pemahamannya tentu tak akan seutuh sang istri yang mengalaminya sendiri. Soal paham-memahami ini mulai intens saya rasakan ketika menikah lima tahun lalu. Saya mulai memahami, misalnya, mengapa dulu banyak senior saya yang sudah menikah sulit sekali diajak kongres (nongkrong teu beres-beres) malam-malam di kampus. Setelah kelahiran Amartya dua tahun lalu, saya mula…

Antara anugerah dan kutukan

Image
Ada yang mengatakan bahwa hidup (tepatnya kelahiran ke alam dunia) itu kutukan, karena "kita" tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Ada juga yang menerima hidup sebagai anugerah, karena hidup adalah sebuah takdir yang --seperti halnya yang memandang sebagai kutukan-- tak terelakkan. Karena kita tidak memiliki kuasa atasnya.

Mengisi hidup dengan mengutuk ke-hidup-an itu sendiri (bagi mereka yang sudah cukup lama hidup di dunia ini dan menghadapi berbagai macam persoalannya) tentu saja tidak bijaksana. Lebih-lebih berniat mengakhirinya. Kehidupan memang penuh misteri. Aku yakin bahwa misteri kehidupan ini tak akan ada habisnya. Sama seperti tak akan ada habisnya upaya kita mengarungi galaksi untuk mencari "dunia" yang mirip dengan yang kita tinggali saat ini.

Perasaan bahwa hidup ini sulit, tak kenal ampun, apalagi kutukan, adalah karena kita memiliki akal, karena kita memiliki kemampuan untuk berpikir. Karenanya, kupikir kita tak perlu menyesali anugerah tersebut.

Django Unchained!

Image

Mengapa Saya 'Berpolitik' (atau Memilih Rieke-Teten).

Image
Setiap mendengar kata pilkada (pemilihan kepala daerah), saya pikir semua setuju bahwa kita akan langsung berpikir tentang partai politik dengan simbol-simbolnya (bendera warna-warni dan logo-logo partai, baliho, spanduk, poster, flyer) yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Pilkada juga erat kaitannya dengan janji para politikus.

Jujur saja, selama ini saya sering memandang "sinis" pemilu/pilkada. Saya, seperti mungkin juga banyak kawan-kawan yang saya kenal, menganggap apa yang dijanjikan pada pilkada hanyalah omong kosong, janji yang tidak diniatkan untuk dipenuhi.

Dokumentasi diri

Image
Saya pernah menulis bahwa sekarang ini adalah era media sosial, dan orang-orang cenderung "hanya" menggunakan alamat email mereka untuk saling bertukar akses ke akun di Facebook, Twitter, MySpace, Koprol (sudah mati), dan sebagainya.

Memang sih, tidak semua akun media sosial tadi mengharuskan kita punya alamat email teman kita untuk menemukan akun mereka, tapi setidaknya email yang mereka miliki sangat jarang digunakan untuk saling berkirim surat. Apalagi dengan hampir semua teman memiliki smartphone, sekarang saling kirim SMS pun jarang. Kalau tidak menggunakan BBM (BlackBerry Messenger) atau YM (Yahoo Messenger), banyak teman memilih untuk menggunakan aplikasi semacam WhatsApp untuk berkomunikasi. Tapi cukup beralasan, karena biaya yang dikeluarkan untuk berkomunikasi menjadi lebih murah.

Catatan Zen RS soal Lewat Djam Malam

Catatan bagus dari Zen RS soal film Lewat Djam Malam yang beberapa waktu lalu sempat diputar di layar lebar.
Revolusi baru saja berakhir. Seorang mantan pejuang yang kelimpungan menyesuaikan diri dengan situasi pasca-revolusi bertemu pelacur yang merawat sisa-sisa nyala kehidupannya dengan mengkliping iklan-iklan di majalah LIFE. Laila, pelacur itu, tak becus melafalkan nama “LIFE”. Iskandar, mantan pejuang itu, membetulkan pelafalan Laila: “Itu LIFE. Bacanya La-if. Majalah Amerika. Memang mau dibeli semua?”