20 January 2016

Kopi aneh

Dua hari yang lalu seorang teman di kantor berbaik hati memberi saya sekantung kopi Bali Exotic Coffee. Dari namanya mungkin ini memang kopi asal Bali, walaupun dari keterangannya diproduksi di Makassar. Saya belum pernah minum kopi ini sebelumnya, dan cukup bersemangat untuk mencicipinya.

Maka saya siapkanlah gelas di dapur, saya takar kopi dan gula dengan perbandingan 1,5:1,5 sendok. Saya panaskan air hingga mendidih, lalu menuangkannya ke gelas tadi.

Agar rasa kopi lebih terasa, saya terbiasa meninggalkannya dulu selama kurang lebih 5 menit. Hitung-hitung sambil ngecek keadaan anak yang sedang bermain di ruang depan.

Setelah 5 menitan berlalu, saya kembali dan ambil gelas kopi tadi sambil mencari posisi yang enak untuk sesi merokok sambil ngopi.

Setelah merasa posisi duduk cukup nyaman, saya pandang sekilas kopi tadi dan berharap merasakan kopi dengan rasa baru yang unik.

Saya seruput perlahan karena khawatir airnya masih terlalu panas.

Saya rada termenung. Panas airnya pas. Tapi rasanya agak aneh.

"Kok rada cawerang ya rasanya?" pikir saya dalam hati.

Saya pandangi kopi dalam gelas itu cukup lama dan saya seruput untuk kedua kali.

"Inikah rasa kopi Bali Exotic? Kok rasanya hampir hambar, ya." ujar saya mencoba ngobrol dengan diri sendiri.

Saya angkat sejajar dengan muka dan pandangi gelas kopi itu dari dekat cukup lama. Cukup lama.

Lalu saya berteriak dalam hati. "Nya heueuh atuh cawerang, da acan DIKOCEK! Belegug."

Berantakanlah sesi merokok sambil ngopi yang syahdu itu.

23 December 2013

Experiencing is understanding


Untuk mempercayai sesuatu, kadang orang berpegang pada idiom seeing is believing. Dibutuhkan sebuah bukti yang bisa dilihat untuk mempercayainya.
Untuk meyakini sesuatu, kadang kita butuh sesuatu yang lebih dari apa yang terlihat. Butuh sesuatu yang berada dalam suatu lapisan mental, suatu kepercayaan (trust) pada suatu hal yang biasanya disemai melalui rangkaian panjang berbagai tindakan dan aksi, mungkin sebuah kultur.
Untuk memahami suatu hal secara utuh, melihat saja tentu tidak cukup. Seorang suami yang melihat proses melahirkan istrinya tentu saja boleh berkata, “saya paham proses melahirkan itu menyakitkan”, tetapi pemahamannya tentu tak akan seutuh sang istri yang mengalaminya sendiri.
Soal paham-memahami ini mulai intens saya rasakan ketika menikah lima tahun lalu. Saya mulai memahami, misalnya, mengapa dulu banyak senior saya yang sudah menikah sulit sekali diajak kongres (nongkrong teu beres-beres) malam-malam di kampus.
Setelah kelahiran Amartya dua tahun lalu, saya mulai memahami bagaimana persisnya rasa bahagia memiliki seorang anak. Saking bahagianya, keluar rumah untuk beberapa jam saja sudah kangen ingin menimang Amartya yang masih chubby itu. Lebay? Ya, begitulah. :D Bahkan, selama berbulan-bulan pertama setelah kelahirannya, secara tidak sadar saya menganggap anak sayalah yang paling cantik, paling lucu. Anak orang lain: tidak. Hehehe...
Sejak memiliki Amartya itu juga saya mulai belajar memahami bahwa membesarkan seorang anak dan membina keluarga itu tidak semudah yang saya bayangkan. Jika sebelumnya saya lebih banyak “hidup untuk diri sendiri”, maka semua itu berubah. Apa yang saya lakukan atau tidak lakukan akan berdampak pada istri dan anak yang sekarang menjadi tanggungjawab saya.
Bersamaan dengan itu, saya juga mulai belajar memahami bagaimana orangtua saya begitu sabar dan kuat membesarkan saya sedari kecil. Ada kalanya saya merasa paham mengapa ibu saya memaksa saya belajar perkalian bermalam-malam meskipun mata ini sudah belel sebelel-belelnya. Tapi ada saatnya saya tidak paham kesabaran ibu selalu mengijinkan saya latihan band hingga larut malam, walau tahu keesokan paginya saya akan bangun dengan muka malas sambil mencari alasan untuk dibolehkan bolos karena keletihan (dan tentu saja trik saya tidak pernah berhasil).
Pembelajaran tersebut berlaku pada cara saya memandang istri saya. Terkadang saya “gagal paham” mengapa istri saya tidak bisa menerima suatu hal sebagaimana saya menerimanya, atau bagaimana caranya menghadapi sesuatu tidak seperti yang saya harapkan. Tapi kemudian saya sadar bahwa ada hal yang mungkin belum atau bahkan tidak mungkin saya pahami, karena tidak saya alami. Saya bisa saja alpa, bahwa dalam tindakannya, mungkin ada pertimbangan seorang ibu, yang kadang tidak "masuk" jika dilihat dari kacamata logika.
Bagi saya, idiom experiencing is understanding sangat tepat untuk menunjukkan betapa hampir mustahilnya saya sebagai seorang laki-laki, anak, suami, dan ayah, untuk memahami apa yang dialami seorang ibu, apa yang dirasakannya, apa yang ada dalam benaknya.
Melalui catatan singkat ini, saya ingin turut mengucapkan selamat Hari Ibu. Semoga kaum ibu selalu berada dalam kebahagiaan lahir dan batin. Aamiin.

8 November 2013

Antara anugerah dan kutukan


Ada yang mengatakan bahwa hidup (tepatnya kelahiran ke alam dunia) itu kutukan, karena "kita" tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Ada juga yang menerima hidup sebagai anugerah, karena hidup adalah sebuah takdir yang --seperti halnya yang memandang sebagai kutukan-- tak terelakkan. Karena kita tidak memiliki kuasa atasnya.

Mengisi hidup dengan mengutuk ke-hidup-an itu sendiri (bagi mereka yang sudah cukup lama hidup di dunia ini dan menghadapi berbagai macam persoalannya) tentu saja tidak bijaksana. Lebih-lebih berniat mengakhirinya. Kehidupan memang penuh misteri. Aku yakin bahwa misteri kehidupan ini tak akan ada habisnya. Sama seperti tak akan ada habisnya upaya kita mengarungi galaksi untuk mencari "dunia" yang mirip dengan yang kita tinggali saat ini.

Perasaan bahwa hidup ini sulit, tak kenal ampun, apalagi kutukan, adalah karena kita memiliki akal, karena kita memiliki kemampuan untuk berpikir. Karenanya, kupikir kita tak perlu menyesali anugerah tersebut.

21 February 2013

Mengapa Saya 'Berpolitik' (atau Memilih Rieke-Teten).

Setiap mendengar kata pilkada (pemilihan kepala daerah), saya pikir semua setuju bahwa kita akan langsung berpikir tentang partai politik dengan simbol-simbolnya (bendera warna-warni dan logo-logo partai, baliho, spanduk, poster, flyer) yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Pilkada juga erat kaitannya dengan janji para politikus.

Jujur saja, selama ini saya sering memandang "sinis" pemilu/pilkada. Saya, seperti mungkin juga banyak kawan-kawan yang saya kenal, menganggap apa yang dijanjikan pada pilkada hanyalah omong kosong, janji yang tidak diniatkan untuk dipenuhi.

2 October 2012

Dokumentasi diri

Saya pernah menulis bahwa sekarang ini adalah era media sosial, dan orang-orang cenderung "hanya" menggunakan alamat email mereka untuk saling bertukar akses ke akun di Facebook, Twitter, MySpace, Koprol (sudah mati), dan sebagainya.

Memang sih, tidak semua akun media sosial tadi mengharuskan kita punya alamat email teman kita untuk menemukan akun mereka, tapi setidaknya email yang mereka miliki sangat jarang digunakan untuk saling berkirim surat. Apalagi dengan hampir semua teman memiliki smartphone, sekarang saling kirim SMS pun jarang. Kalau tidak menggunakan BBM (BlackBerry Messenger) atau YM (Yahoo Messenger), banyak teman memilih untuk menggunakan aplikasi semacam WhatsApp untuk berkomunikasi. Tapi cukup beralasan, karena biaya yang dikeluarkan untuk berkomunikasi menjadi lebih murah.

10 July 2012

Catatan Zen RS soal Lewat Djam Malam

Catatan bagus dari Zen RS soal film Lewat Djam Malam yang beberapa waktu lalu sempat diputar di layar lebar.
Revolusi baru saja berakhir. Seorang mantan pejuang yang kelimpungan menyesuaikan diri dengan situasi pasca-revolusi bertemu pelacur yang merawat sisa-sisa nyala kehidupannya dengan mengkliping iklan-iklan di majalah LIFE. Laila, pelacur itu, tak becus melafalkan nama “LIFE”. Iskandar, mantan pejuang itu, membetulkan pelafalan Laila: “Itu LIFE. Bacanya La-if. Majalah Amerika. Memang mau dibeli semua?”

5 July 2012

Facebook akan Mati pada 2020?

Dua bulan lalu Facebook baru saja mengumumkan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) mereka. Dengan nilai $38 per lembar, penjualan 421,2 juta saham di penampilan perdananya telah membuat market value Facebook melambung menjadi 16 milyar dollar AS. Hal ini membuat Facebook menjadi perusahaan jejaring sosial termahal, lebih mahal dari hampir semua perusahaan yang tercatat di dalam Standard & Poor’s 500 Index.