Posts

Showing posts from November, 2005

Saling memohon maaf

Akhirnya Lebaran juga..
Di hari ini, jaman gini, hampir semua pemilik handphone memanfaatkan fasilitas sandek (pesan pendek a.k.a SMS) untuk berkirim salam, berkirim do'a, dan berkirim permohonan maaf. Tak terkecuali aku.

Ya, meski tak semua sandek yang masuk bisa langsung aku balas karena "lalu lintas" sandek yang padat (ternyata sinyal/gelombang bisa macet juga), aku juga tak ingin keburu telat memohon maaf dan berkirim sapa pada kawan-kawanku.

Di hari ini, aku ingin berbagi kemurahan hati kawan-kawanku yang telah menyisihkan waktu (dan pulsanya!) untuk menyapaku. Nih, beberapa diantaranya. Sandek-sandek di bawah dikirim antara tanggal 2 November sampai hari ini.
sbLm
Lebaran
tiba


sbLm
jaRingan
pEnuH


sbLm
oPeRatoR
siBuK


sbLm
puLsa
aBis
&


sbLm
ketupat
matang


taQoballahu
minna
waMinkum


mohon maap
lahiR n bathindari: aulia

Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.
Taqabalallahu minna waminkum, shiamana washiamakum..
dari: [dyke]

Selamat berlebaran yee, minal aidzin walfaidzin.
Yayuk sekeluar…

Kenapa merokok?

Image
"Kenapa merokok?"
"Kenapa aku merokok?"
Entahlah. Awalnya tentu cuma coba-coba, ikut-ikutan.
"Akhirnya ketagihan?" Sepertinya begitu.


Jawaban seorang perokok tentang alasannya merokok memang banyak. Baik yang menjawab dengan nada serius maupun yang ngejawab asal kena, bahkan main-main. Inti jawabannya gampang ditangkap: "Kumaha aing we, aing nu ngaroko!"

Perokok berat maupun perokok ringan, aku yakin mereka sama-sama tahu, merokok itu buruk. Aku juga tahu itu. Aku sadar. Buruk untuk kesehatan, buruk untuk arus penerimaan dan pengeluaran (maksudnya: uang).

Jawaban yang biasa keluar dari mulutku adalah: "Kalau aku dan semua perokok berhenti merokok, negara bakalan bangkrut!" Ya, karena bukankah pajak dari industri rokok cukup menggiurkan?

Jawaban dari mendiang Pram cukup nyeleneh: "Kalau saya berhenti merokok, kasihan petani tembakau." Haha.. Dasar humanis.

Seorang kawan pernah berkata dengan nada serius, "kalau negara bisa dapat…

Aku hanya diam

Pernahkah kamu merasa begitu takut? Takut berbuat karena apa yang kau perbuat itu akan menyakiti orang-orang yang sangat kamu cintai?

Apa yang akan kamu lakukan jika dua orang yang sama-sama kamu cintai memiliki permintaan yang saling bertentangan? Dan, jika kamu turuti salah satunya, yang satu akan begitu sakit hati. Ya, kamu yakin bahwa perbuatanmu itu akan menyakiti hati salah satunya, benar-benar menyakiti.

Haruskah kemungkinan itu tak kita hiraukan? Bagaimana jika kedua permintaan itu, tak kau turuti? Meski juga tetap akan menyakiti salah satunya. Salahkah?

Salahkah jika aku diam saja, karena begitu takut akan menyakiti mereka, orangtuaku sendiri?

Aku diam saja, terlalu bodoh untuk melewati rintangan itu..

Fuihh.. Isola 37 akhirnya terbit juga!

Image
Akhirnya, Isola Pos Edisi 37 terbit juga. Kami masih berusaha untuk membenahi kinerja kami, awak redaksi, untuk selalu lebih baik.

Di Isola edisi ini, laporan utamanya berusaha mengangkat latar belakang kebijakan kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) oleh pemerintah awal Oktober kemarin. (Secara pribadi, aku pikir pemerintah masih juga semena-mena dalam membuat kebijakan.)

Kulit muka edisi ini kami putuskan untuk berwarna hitam putih. Selain untuk mendukung konsep cover yang memberi kesan wa'as alias getir(?), kebetulan sekali ini sangat membantu lembaga yang kondisi keuangan nyal sedang kurang beruntung alias bokek!.

Foto kulit muka diambil di tengah ruas jalan di kawasan Cikutra, Bandung. Bagus, kan? Sangat pas dengan tema yang kami angkat. Tak terlalu mengada-ada kalau kami bilang masyarakat memang kecewa dengan kebijakan naiknya harga BBM, kan?

Untuk dua edisi terakhir (Edisi 35 dan 36), kami membuat versi PDF (Portable Document Format) dari Isola Pos agar tetap bisa diakses secara lu…

Sebelum lusa

Lusa, bukankah Hari Fitri itu tiba?
Lusa, bukankah semestinya kita terlalu bahagia untuk menyambutnya?
Dua atau tiga tahun kemarin, mungkin.
Tahun ini? Semua memang tak sama lagi..