23 December 2013

Experiencing is understanding


Untuk mempercayai sesuatu, kadang orang berpegang pada idiom seeing is believing. Dibutuhkan sebuah bukti yang bisa dilihat untuk mempercayainya.
Untuk meyakini sesuatu, kadang kita butuh sesuatu yang lebih dari apa yang terlihat. Butuh sesuatu yang berada dalam suatu lapisan mental, suatu kepercayaan (trust) pada suatu hal yang biasanya disemai melalui rangkaian panjang berbagai tindakan dan aksi, mungkin sebuah kultur.
Untuk memahami suatu hal secara utuh, melihat saja tentu tidak cukup. Seorang suami yang melihat proses melahirkan istrinya tentu saja boleh berkata, “saya paham proses melahirkan itu menyakitkan”, tetapi pemahamannya tentu tak akan seutuh sang istri yang mengalaminya sendiri.
Soal paham-memahami ini mulai intens saya rasakan ketika menikah lima tahun lalu. Saya mulai memahami, misalnya, mengapa dulu banyak senior saya yang sudah menikah sulit sekali diajak kongres (nongkrong teu beres-beres) malam-malam di kampus.
Setelah kelahiran Amartya dua tahun lalu, saya mulai memahami bagaimana persisnya rasa bahagia memiliki seorang anak. Saking bahagianya, keluar rumah untuk beberapa jam saja sudah kangen ingin menimang Amartya yang masih chubby itu. Lebay? Ya, begitulah. :D Bahkan, selama berbulan-bulan pertama setelah kelahirannya, secara tidak sadar saya menganggap anak sayalah yang paling cantik, paling lucu. Anak orang lain: tidak. Hehehe...
Sejak memiliki Amartya itu juga saya mulai belajar memahami bahwa membesarkan seorang anak dan membina keluarga itu tidak semudah yang saya bayangkan. Jika sebelumnya saya lebih banyak “hidup untuk diri sendiri”, maka semua itu berubah. Apa yang saya lakukan atau tidak lakukan akan berdampak pada istri dan anak yang sekarang menjadi tanggungjawab saya.
Bersamaan dengan itu, saya juga mulai belajar memahami bagaimana orangtua saya begitu sabar dan kuat membesarkan saya sedari kecil. Ada kalanya saya merasa paham mengapa ibu saya memaksa saya belajar perkalian bermalam-malam meskipun mata ini sudah belel sebelel-belelnya. Tapi ada saatnya saya tidak paham kesabaran ibu selalu mengijinkan saya latihan band hingga larut malam, walau tahu keesokan paginya saya akan bangun dengan muka malas sambil mencari alasan untuk dibolehkan bolos karena keletihan (dan tentu saja trik saya tidak pernah berhasil).
Pembelajaran tersebut berlaku pada cara saya memandang istri saya. Terkadang saya “gagal paham” mengapa istri saya tidak bisa menerima suatu hal sebagaimana saya menerimanya, atau bagaimana caranya menghadapi sesuatu tidak seperti yang saya harapkan. Tapi kemudian saya sadar bahwa ada hal yang mungkin belum atau bahkan tidak mungkin saya pahami, karena tidak saya alami. Saya bisa saja alpa, bahwa dalam tindakannya, mungkin ada pertimbangan seorang ibu, yang kadang tidak "masuk" jika dilihat dari kacamata logika.
Bagi saya, idiom experiencing is understanding sangat tepat untuk menunjukkan betapa hampir mustahilnya saya sebagai seorang laki-laki, anak, suami, dan ayah, untuk memahami apa yang dialami seorang ibu, apa yang dirasakannya, apa yang ada dalam benaknya.
Melalui catatan singkat ini, saya ingin turut mengucapkan selamat Hari Ibu. Semoga kaum ibu selalu berada dalam kebahagiaan lahir dan batin. Aamiin.