1 November 2005

Kenapa merokok?

"Kenapa merokok?"
"Kenapa aku merokok?"
Entahlah. Awalnya tentu cuma coba-coba, ikut-ikutan.
"Akhirnya ketagihan?" Sepertinya begitu.


Jawaban seorang perokok tentang alasannya merokok memang banyak. Baik yang menjawab dengan nada serius maupun yang ngejawab asal kena, bahkan main-main. Inti jawabannya gampang ditangkap: "Kumaha aing we, aing nu ngaroko!"

Perokok berat maupun perokok ringan, aku yakin mereka sama-sama tahu, merokok itu buruk. Aku juga tahu itu. Aku sadar. Buruk untuk kesehatan, buruk untuk arus penerimaan dan pengeluaran (maksudnya: uang).

Jawaban yang biasa keluar dari mulutku adalah: "Kalau aku dan semua perokok berhenti merokok, negara bakalan bangkrut!" Ya, karena bukankah pajak dari industri rokok cukup menggiurkan?

Jawaban dari mendiang Pram cukup nyeleneh: "Kalau saya berhenti merokok, kasihan petani tembakau." Haha.. Dasar humanis.

Seorang kawan pernah berkata dengan nada serius, "kalau negara bisa dapat pajak dari ganja atau heroin, mungkin keduanya akan dijual bebas."

Euleuh, nyelekit banget tuh kalau orang BNN denger. Perkataan si kawan itu paling tidak mengkritik dua hal sekaligus:
  1. Negara tidak membuat rokok/merokok sebagai hal yang bertentangan dengan hukum karena negara mendapat untung dari penjualannya: pajak.
  2. Negara melakukan perang terhadap ganja/narkoba karena negara tidak (atau belum) menemukan cara agar konsumsi ganja/heroin dapat memberikan pemasukan (lagi-lagi, pajak).
Meskipun cukup masuk akal, tapi agak sinikal, ya.

Ah, pusing lah, saya mau merokok dulu...