Posts

Banyak pikiran

Suatu hari, sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat "tugas" dari Lida mencari dua buah buku teks filsafat . Salah satunya berjudul Ontologi Metafisika Umum karya Anton Bakker. Karena Lida sangat sangat sangat (sengaja saya ditulis tiga kali sebagai hiperbola) membutuhkan buku itu untuk bahan ujian esok harinya, saya harus mendapatkan si buku hari itu juga. Maka meluncurlah saya ke Toko Buku Gramedia PVJ (Paris Van Java), toko buku terdekat dari kosan. Dengan menarik gas sekencang yang saya mampu, saya sampai di PVJ. Masuk tempat parkir, kunci ganda motor, titip helm, lalu bergegas masuk. Dengan langkah tergesa-gesa saya menuju meja informasi. Di sana saya lihat seorang karyawan perempuan tersembunyi di balik meja, membereskan beberapa buku. Setelah saya sapa, dia pun berdiri menanyakan keperluan saya. "Mau mencari buku, mbak," kata saya. "Apa judulnya?" "Ontologi Metafisika Umum, karangan Anton Bakker." Si petugas kemudian bersiap melakukan ...

110 E-Book Transformasi Sosial

Lagi, dari blog-nya Andreas Iswinarto "Lentera di atas Bukit", 110 e-book gratis bertema transformasi sosial. Judul buku elektronik dalam daftar itu sebenarnya tidak sampai 100, tapi mungkin judul yang lebih banyak bisa ditemukan di tautan yang dituju (judul-judul buku elektronik itu merupakan tautan ke berbagai blog atau situs lain). Judul lengkap silahkan cek di  110 E-Book Bebas Untuk Transformasi Sosial .

E-book gratis transformasi sosial

Buku gratis selalu menggiurkan, bukan? Lentera di Atas Bukit punya daftar 35 buku elektronik (dari berbagai sumber) dengan berbagai topik bahasan di bawah payung transformasi sosial. Dapatkan di 35 E-Book Gratis untuk Transformasi Sosial

Merdeka!

Image
Di ketinggian gunung Kendang (?), setelah upacara 17 Agustus untuk kalangan terbatas, tak lupa difoto dan berteriak "merdeka!"...

Menginstal huruf berjenis *.otf

Beberapa hari lalu saya tertarik untuk menginstal jenis font logo Ubuntu, dan setelah browsing, saya mendapatkan file-nya. Tapi file itu berjenis OpenType Font ( *.otf ). Setelah browsing ke ubuntuforums.org (jadi langganan nih, hehe..) saya mendapatkan instruksinya dan setelah saya ikuti: haha.. berhasil. Siapa tahu ada yang punya kesulitan yang sama, saya tuliskan di bawah ini caranya. Sederhana kok. Contoh kasusnya: saya punya file huruf ubuntu-title.otf di dalam file ZIP bernama ubuntu-title.zip di desktop saya. Ini yang saya lakukan (menggunakan terminal): cd ~/Desktop unzip ubuntu-title.zip mkdir ~/.fonts cp ubuntu-title.otf ~/.fonts sudo fc-cache -f Tentang perintah di atas: Pindah ke Desktop Ekstrak isi ubuntu-title.zip Buat folder fonts di home directory kita Salin file ubuntu-title.otf ke folder fonts yang tadi kita buat Lakukan update cache font untuk memastikan Ubuntu mengenali font baru kita Setelah itu untuk mencoba apa font sudah terinstal, saya coba...

Instal Audacious: sukses!

Image
Upaya menginstal Audacious di Gutsy Gibbon saya akhirnya berhasil juga. Setelah bolak-balik kamar untuk mengunduh paket-paket yang dibutuhkan, akhirnya semua dependensi audacious terpenuhi. Ini screenshot Audacious dengan skin Bento Classified milik WinAmp... Selain kemiripan tampilan, yang membuat saya menyukai Audacious adalah kemiripan kelakuannya dengan WinAmp. Berbeda dengan XMMS yang harus "klik dan tahan" untuk membuka dan memilih menu, Audacious memberi kemudahan yang sama dengan WinAmp. Kita hanya perlu klik sekali untuk membuka menu. Setelah mengeluh tentang ribetnya menginstal paket secara manual, akhirnya saya berhasil menginstal audacious menggunakan paket-paket dependensi ini: audacious_1.2.2-4_i386.deb | |-- audacious-plugins_1.2.5-1_i386.deb | |-- libflac7_1.1.2-6_i386.deb | |-- libpulse0_0.9.5-5_i386.deb | | | |-- libasyncns0_0.1-1_i386.deb | |-- libtagc0_1.4-4_i386.deb Sebenarnya saya juga mengunduh paket audac...

Anak tetangga

Image
Haha.. Waktu lagi lihat-lihat foto di komputer, saya kebetulan melihat foto ini. Anak di foto itu bernama Anggi, anak tetangga sebelah kosan yang sering memanggil saya (kemudian sambil bertanya macam-macam mengikuti saya ke kamar) kalau kebetulan bertemu di gang. Anaknya sedikit ngaco. Kalau ditanya sekolah kelas berapa, dia jawab: "kelas tiga." Kadang-kadang "kelas empat." Padahal dia belum sekolah. Atau, selesai main game (dia sering minta pinjam handphone saya untuk bermain game ) dan saya tanya juara ke-berapa, jawabannya: "juara pertama! Eh , engga ketang , juara ketiga," sambil cengar-cengir . Padahal, di dalam permainan itu engga ada istilah juara 1, 2, atau 3. Haha.. Dasar budak ...