Posts

Dulu, kala demam

Suatu hari, ketika aku masih berusia belasan tahun, aku bertanya pada kakakku. "Mengapa seseorang tak boleh menceritakan mimpi buruknya pada orang lain?" kataku setengah mengeluh. Beberapa hari yang lalu, aku teringat kembali akan mimpi-mimpi buruk dikala demam meremas tubuhku. Samar-samar, teringat juga perkataan seorang guru agama tentang larangan menceritakan mimpi buruk itu. Kakakku menjawab, "alasannya supaya kamu terbiasa memecahkan masalah-masalah yang kamu hadapi seorang diri." Aku termenung, seperti biasanya. Aku coba mencerna dan memahami kata-kata itu (meski sempat kupikir, jawabannya enggak nyambung !). Aku coba mencari setitik sari kebenaran di sana. Ya, memang ada hal yang harus kita hadapi sendirian. Dan aku percaya, ini salah satu asal jejak yang sampai saat ini menemaniku...

Isola Pos #38

Image

Happy Birthday Lida!

Hari ini Lida , pacarku, ulang tahun.. Hmm, kasih apa ya?!

Dingin..

Beberapa hari ini cuaca Bandung buruk sekali. Dalam sehari, hujan bisa turun hampir tiga kali. Lama pula. Akibatnya jelas, sinar matahari tertutup awan di atas sana, membuat udara dingin sepanjang hari. Kalau dikira-kira, mungkin suhu udara di bandung saat ini turun sekitar 3 derajat celcius . Dingin banget. Karena udara dingin yang berkepanjangan (udara Ledeng dinginnya minta ampun!), Lida harus kembali sakit. Tadi malam batuknya kambuh, semalaman. Sementara, sesekali hidungku meler akibat kedinginan. Pagi ini aku tak kuliah lagi, badanku lemas. Semalam tidur-bangun. Ah, kapan matahari hangatkan kembali?

Saling memohon maaf

Akhirnya Lebaran juga.. Di hari ini, jaman gini, hampir semua pemilik handphone memanfaatkan fasilitas sandek (pesan pendek a.k.a SMS) untuk berkirim salam, berkirim do'a, dan berkirim permohonan maaf. Tak terkecuali aku. Ya, meski tak semua sandek yang masuk bisa langsung aku balas karena "lalu lintas" sandek yang padat (ternyata sinyal/gelombang bisa macet juga), aku juga tak ingin keburu telat memohon maaf dan berkirim sapa pada kawan-kawanku. Di hari ini, aku ingin berbagi kemurahan hati kawan-kawanku yang telah menyisihkan waktu (dan pulsanya!) untuk menyapaku. Nih, beberapa diantaranya. Sandek-sandek di bawah dikirim antara tanggal 2 November sampai hari ini. sbLm Lebaran tiba sbLm jaRingan pEnuH sbLm oPeRatoR siBuK sbLm puLsa aBis & sbLm ketupat matang taQoballahu minna waMinkum mohon maap lahiR n bathin dari: aulia Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Taqabalallahu minna waminkum, shiamana washiamakum.. dari: [dyke] Selamat berlebaran yee, minal aidz...

Kenapa merokok?

Image
"Kenapa merokok?" "Kenapa aku merokok?" Entahlah. Awalnya tentu cuma coba-coba, ikut-ikutan. "Akhirnya ketagihan?" Sepertinya begitu. Jawaban seorang perokok tentang alasannya merokok memang banyak. Baik yang menjawab dengan nada serius maupun yang ngejawab asal kena, bahkan main-main. Inti jawabannya gampang ditangkap: " Kumaha aing we, aing nu ngaroko !" Perokok berat maupun perokok ringan, aku yakin mereka sama-sama tahu, merokok itu buruk. Aku juga tahu itu. Aku sadar. Buruk untuk kesehatan, buruk untuk arus penerimaan dan pengeluaran (maksudnya: uang). Jawaban yang biasa keluar dari mulutku adalah: "Kalau aku dan semua perokok berhenti merokok, negara bakalan bangkrut!" Ya, karena bukankah pajak dari industri rokok cukup menggiurkan? Jawaban dari mendiang Pram cukup nyeleneh: "Kalau saya berhenti merokok, kasihan petani tembakau." Haha.. Dasar humanis. Seorang kawan pernah berkata dengan nada serius, "kalau negara b...

Aku hanya diam

Pernahkah kamu merasa begitu takut? Takut berbuat karena apa yang kau perbuat itu akan menyakiti orang-orang yang sangat kamu cintai? Apa yang akan kamu lakukan jika dua orang yang sama-sama kamu cintai memiliki permintaan yang saling bertentangan? Dan, jika kamu turuti salah satunya, yang satu akan begitu sakit hati. Ya, kamu yakin bahwa perbuatanmu itu akan menyakiti hati salah satunya, benar-benar menyakiti. Haruskah kemungkinan itu tak kita hiraukan? Bagaimana jika kedua permintaan itu, tak kau turuti? Meski juga tetap akan menyakiti salah satunya. Salahkah? Salahkah jika aku diam saja, karena begitu takut akan menyakiti mereka, orangtuaku sendiri? Aku diam saja, terlalu bodoh untuk melewati rintangan itu..