11 October 2010

Mailing list

Di era Facebook, Twitter, MySpace, Koprol, YM, dan entah apa lagi, kenapa e-mail dan mailing list dilupakan? Seakan-akan sekarang ini orang-orang bertukar alamat email hanya untuk demi bisa saling mencari dan menghubungi lewat Facebook. Menurut saya, agak aneh.

Saya dan kawan-kawan yang dulu bergiat bersama di organisasi kampus harus berdiskusi lewat "inbox" alias saling berkirim pesan pribadi untuk membicarakan sesuatu. Hasilnya menjadi tidak teratur alias berantakan. Komentar atau pesan balasan sering tidak terbaca karena lupa membuka halaman yang "terlipat" oleh sistem pembagian halaman otomatis dari Facebook. Belum lagi, seringkali banyak orang yang tidak terlibatkan dalam diskusi tersebut (secara tidak sengaja) karena lupa di-tag. Dan ketika mau 'mengundang' atau menambahkan orang lain untuk turut berdiskusi dalam sebuah masalah yang sudah bergulir dalam satu subjek, kita harus membuat subjek baru. Dengan begini, diskusi atau pembicaraan menjadi terpotong-potong, dan otomatis pemahaman dari setiap orang yang terlibat dalam diskusi itu seringkali menjadi timpang.

Selain bersifat pribadi, saya kira email dan mailing list masih menjadi medium diskusi yang terbaik untuk memastikan penyebaran dan pertukaran ide serta gagasan terdistribusi secara merata. Tapi, ya kalau semua orang tak lagi memeriksa emailnya, mungkin alamat email memang cuma sekadar alamat.