20 February 2010

Years From Disaster

Kemarin malam acara Seconds From Disaster (SFD) di National Geographic Channel (NGC) menampilkan cerita tentang sebuah kecelakaan kereta di Amerika. Bergerbong-gerbong kereta meloncat ke luar rel dan mendarat di sungai, sebagian ke rawa-rawa. SFD kemudian melakukan rekonstruksi dan merunut balik ke saat-saat sebelum kecelakaan kereta itu terjadi. Ternyata, hasil penyelidikan mengungkap beberapa menit sebelumnya, di sungai, sebuah kapal pengangkut pasir dengan jarak pandang terbatas telah membentur jembatan. Hal itu mengakibatkan rel kereta pada jembatan itu bergeser ke pinggir (melengkung dan tidak patah) hampir satu meter. Tak lama kemudian sebuah kereta melewati jembatan itu, dan dalam hitungan detik kereta itu berhamburan. Korban jiwa berjatuhan.

Sekilas, kesimpulan awal untuk menjelaskan penyebab bencana itu sudah bisa kita dapat: bencana itu tidak perlu terjadi jika kapal pengangkut pasir tidak membentur jembatan. Tapi seperti berbagai program acara ilmiah lainnya, SFD memandang skeptis fakta ini. Para insinyur yang meneliti kasus ini berpendapat, semestinya rel tersebut tidak bergeser hanya karena sebuah benturan. Dan setelah dikaji secara mendalam, ternyata ada sebuah solusi sederhana murah meriah: jika saja rel pada jembatan itu (yang dari catatan historisnya ternyata dibangun sebagai jembatan yang bisa berputar 180 derajat) diberi sebuah patok kecil untuk mencegahnya bergeser ketika mendapat benturan atau tumbukan dari samping, maka kecelakaan maut itu tidak perlu terjadi.

Kasus itu kemudian menghasilkan sebuah standar keamanan baru bagi jembatan-jembatan kereta lama dengan jenis serupa. Dan sebelas hari setelah kecelakaan, jembatan itu sudah diperbaiki dan dapat dilintasi oleh kereta-kereta lain, tentunya dengan fitur tambahan: dapat menahan benturan dari samping.

Yang membuat saya menyukai acara-acara semacam SFD adalah bagaimana akal dan ilmu pengetahuan (sains) digunakan untuk mengapresiasi kecintaan terhadap hidup. Para penumpang kereta pun tidak usah kemudian merasa khawatir berlebihan. Toh sudah ada perbaikan yang akan menekan kemungkinan terjadinya kecelakaan serupa.

***
Saya kemudian mencoba membanding-bandingkannya dengan musibah rutin yang terjadi di tempat tinggal saudara saya, di daerah Panyileukan, Bandung. Setiap musim hujan (atau ketika hujan besar) warga di daerah ini harus selalu siap-siap menghadapi banjir. Dengan sigap (mungkin hampir sama dengan disiplin seorang militer) mereka memindahkan kasur, barang elektronik, furnitur, dan barang-barang lainnya hingga kira-kira berada di atas permukaan air jika banjir datang. Jika lalai, besoknya mereka harus siap-siap menerima kenyataan bahwa semuanya basah kuyup: kasur, sepatu, baju, buku, handphone, dan entah apa lagi.

Atap rumah kontrakan saya pernah bocor, dan ketika harus membersihkan genangan air setinggi dua senti saja capeknya bukan main (fisik dan mental). Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menghadapi banjir setinggi lutut di dalam rumah, membayangkan buku dan barang-barang lainnya rusak dan kotor.

Banjir yang menimpa warga di Panyileukan bukanlah sebuah kasus musibah yang baru terjadi. Musibah banjir ini sudah terjadi bertahun-tahun. Sampai saat ini beberapa solusi menghadapi banjir versi individu adalah: angkat-angkat barang; mengungsi; memodifikasi rumah dengan mempertinggi lantainya (seperti yang dilakukan beberapa tetangga saudara saya); membuat benteng di sekeliling rumah; atau jika punya cukup uang: merombak rumah dan membuat fondasi yang lebih tinggi. Apakah masyarakat punya solusi jangka panjang? Memperbaiki saluran drainasekah? Pengelolaan sampah yang lebih baikkah? Tapi bagaimana kalau masalahnya bukan pada warga Panyileukan? Bagaimana kalau banjir itu diakibatkan oleh pengelolaan lingkungan yang salah di daerah lain?

Sudah jelas bahwa masyarakat tidak akan mampu mencari solusi permasalahan banjir ini sendirian. Apalagi kalau penyebab banjir memang bukan berasal dari pengelolaan lingkungan di daerah Panyileukan. Jika memang begitu, pemetaan masalah akan melibatkan wilayah yang luas sehingga hanya bisa diteliti dan dikaji secara sistematis oleh pemerintah atau pihak dengan kemampuan setara. Dan kemungkinannya, hanya pemerintahlah (dan karena memang itulah kewajibannya) yang bisa membuat sebuah aturan hukum untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan di berbagai wilayah terkait masalah banjir ini.

Mungkin, berbeda dengan kasus di awal tulisan ini, kita belum menganggap musibah banjir ini sebagai masalah serius dalam kehidupan sehari-hari kita. Padahal, saat ini banjir tidak hanya terjadi di daerah Panyileukan. Beberapa daerah seperti Baleendah atau Daeyuhkolot bahkan menderita musibah banjir yang lebih mengkhawatirkan. Dan ini bukan kali pertama. Haruskah kita membuat sebuah rekonstruksi besar, merunut ke tahun-tahun awal dimulainya musibah banjir ini untuk kemudian merumuskan jalan keluarnya?

Hmh, di kota ini masalah lingkungan mungkin belum cukup seksi untuk menjadi “politik”.