22 June 2007

Energi yang lagi krisis

Untuk orang yang sebagian hidupnya didedikasikan pada aktivitas teknologi (seperti saya) yang sedikit (sedikittt?) bersandar pada perangkat elektronik, yang namanya persoalan listrik tak bisa dianggap remeh. Makanya headline Kompas kemarin tentang adanya kemungkinan padamnya aliran listrik di pulau Jawa dan Bali bikin risau. Bahkan, orang-orang yang aktivitasnya tak mirip saya pun akan khawatir.

Apa yang akan terjadi kalau satu pulau padat tak berlistrik? Yang pasti bukan hanya tak bisa ketak-ketik di komputer. Orang-orang bakal kesulitan nonton TV, tak bisa browsing internet, ngeblog, es-es mencair dari banyak kulkas, komunikasi via kabel dan nirkabel akan terganggu, aktivitas ekonomi terancam lumpuh, belum lagi matinya ikan-ikan di akuarium (seperti yang menimpa arwana ayah saya beberapa hari lalu, hehe..), sampai kekacauan lalu lintas yang tak terkira akibat matinya semua lampu lalu lintas. Lebih jauh lagi, kita bisa bayangkan matinya sistem alarm di banyak fasilitas publik seperti bank, atau alat-alat kedokteran di rumah sakit. Gila, gimana misalnya kalau ada orang koma yang menggantungkan nafasnya pada alat canggih bertenaga listrik yang dipasok PLN?

Masalah listrik, lebih jauh lagi energi, sebenarnya sudah lama jadi masalah penting bagi hampir semua manusia di muka bumi ini. Cuma tak banyak yang sadar dan peduli. Anehnya, di negeri ini belum ada usaha serius untuk tidak menggantungkan diri pada pembangkit energi tenaga minyak. Dengan adanya krisis listrik macam ini, orang-orang pro PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) malah seperti diuntungkan dengan argumen bahwa kebutuhan akan pembangkit tenaga listrik yang bisa menghasilkan daya yang lebih besar amat sangat dibutuhkan dengan segera di Indonesia. Padahal, dengan iklim yang kaya sinar matahari dan kaya akan tiupan angin (ditambah lagi ombak-ombak besar), Indonesia punya potensi besar untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya, angin, uap, juga air pasang.

Saya masih ingat, di Pasar Seni ITB beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat ada anak-anak ITB yang menjual topi dengan kipas kecil di atasnya. Oh, saya ingat betul betapa saya punya keinginan terpendam yang begitu besar untuk memiliki topi itu (akhirnya saya menyesal abis-abisan karena tak meminta dibelikan topi itu, meskipun saya tahu harganya memang cukup mahal). Yang membuat keinginan itu begitu menggebu adalah, kipas kecil yang mengarah ke muka pemakainya itu digerakkan oleh sumber energi tenaga surya. Setelah saya ingat-ingat, memang ada sedikit rasa ragu. Setahu saya pengembangan solar cell (sel surya) itu tidak mudah apalagi murah. Tapi saya yakin betul kok kalau topi berkipas yang saya lihat itu dipasok tenaga matahari.

Kembali ke masalah energi di Indonesia, saya bertanya-tanya dalam hati. Sepertinya Indonesia bukan tidak mampu membuat jalan keluar dari krisis energi, tapi sekali lagi (alamak, begitu klise) tak ada kemauan. We don't have enough ambition.

Untuk the so-called “alternative” bagi krisis energi yang sebagian orang jawab dengan merekomendasikan pembangunan PLTN, saya harus menjawab tidak setuju. Saya kembali harus katakan, tenaga nuklir bukanlah alternatif. Apalagi solusi. PLTN jelas tidak menggunakan bahan baku terbarukan. Ketika penggunaan PLTN di dunia semakin marak, uranium akan semakin langka. Selanjutnya, bukankah PLTN akhirnya akan berhenti bekerja? Setelah itu, siapkah kita menghadapi kenyataan bahwa limbah nuklir (yang entah apa manfaatnya – namun jelas-jelas memberikan radiasi super merugikan mahkluk hidup itu) tak bisa dinetralisir secara alami sebelum lewat ribuan tahun? Ke mana limbah nuklir akan dibuang? Ke laut? Ke perut bumi? Ke luar angkasa? Atau ke halaman rumah kita? Omong kosong! Kecuali kita rela mati konyol.

Sebagai orang awam dalam hal teknologi energi, saya sendiri cuma bisa berandai. Dan seandainya pengembangan sel surya di Indonesia sudah begitu maju (karena memang didukung) dan akhirnya bisa diproduksi masal dengan harga murah, mungkin jutaan pelanggan PLN bisa ikut menghemat listrik dengan memasang sel surya di atap-atap rumah mereka. Saya percaya sumber energi altermatif semacam itu bisa cukup memasok kebutuhan energi untuk menyalakan lampu-lampu bohlam, juga televisi dan radio, misalnya. Setidaknya, mungkin itu bisa diterapkan ketika hari belum gelap alias masih ada sinar matahari.

Saya sendiri berusaha untuk selama mungkin mematikan lampu, kipas angin, komputer, monitor, atau handphone ketika tidak sedang digunakan. Bukankah akan menjadi lebih dari lumayan kalau hal itu dilakukan oleh puluhan juta orang untuk misalnya, satu menit?

Paling tidak, mungkin kita bisa menghemat energi listrik untuk satu hari lagi. Lumayan, kan?

Sok, Bim, jangan cuma ngomong doang wang wang...