3 December 2006

Kemalingan motor!

Kejadiannya Senin subuh, 27 November 2006 yang lalu. Motor Vega R warna hitam-oranye keluaran tahun 2004 saya hilang. Padahal, malamnya saya sempat ngobrol bareng teman-teman kosan sampai hampir tengah malam. Sial, ini kedua kalinya saya menghilangkan motor (milik saya).

...

Hari Minggu, 26 November 2006, saya 'pulang' dari rumah di Bumi Asri ke kosan. Sebelumnya saya janjian sama lida yang juga malam sebelumnya pulang ke Ujung Berung. Kami janjian di gasibu. Sebelum pergi, bapa sempat tanya, "bawa jas hujan enggak?"
"Enggak," jawab saya.
"Bawa atuh, bisi kahujanan," katanya khawatir.
"Ah, enggak bakal, lah. Paling juga hujan kecil aja," jawab saya lagi membantah.

Setelah itu saya pamitan dan pergi dengan motor saya. Belum sampai dua kilometer dari rumah, muka saya merasakan rintik hujan yang semakin rapat. "Ehm, hujan juga," gumam saya. "Ah, paling juga sebentar," pikir saya menghibur diri. Dan saya pun terus berkendara di tengah gerimis. Lama-kelamaan, hujan semakin besar, saya bisa merasakan celana jeans saya semakin pekat dipenuhi air. Tapi, saya masih membantah, setengah berharap benar kalau hujan akan cepat reda. Dan hujan nyatanya tak juga reda. Saya sudah sampai ke jalan Pasteur dan hujan belum berhenti. Setelah saya masuk ke fly over, debit hujan baru kelihatan menyurut. Akhirnya saya sampai di sebuah wartel dekat gasibu, dengan badan basah kuyup, merasa sangat konyol karena hujan sudah berhenti sama sekali.

Saya lalu menelepon lida.
"Aku udah di gasibu," sahut saya.
"Aku baru mau berangkat."
"Masih lama enggak?" kata saya rada ketus.
"Kamu mau ke sini?"
"Aku basah kuyup, dingin," masih dengan nada kesal.
"Oh, di sana hujan?" tanyanya.
"Iya, gede banget. Sekarang sih udah reda."
"Ya udah atuh, bisi kamu kedinginan mah duluan aja," katanya mengalah.
"Ya udah atuh," saya mengiyakan.

Karena masih kedinginan, saya memutuskan untuk merokok dulu di depan wartel. Badan saya mulai menggigil.

Setelah hampir habis satu batang, saya pun berangkat lagi, dengan perasaan sangat kesal karena tubuh saya dibalut pakaian basah yang membuat sulit untuk bergerak.

Tapi, eh, dasar sial. Belum juga dua menit, saya merasakan ada sesuatu yang aneh dengan ban motor saya. "Pasti ban motor bocor," pikir saya. Dan benarlah, saya harus menggiring motor itu hampir satu kilo sampai kemudian menemukan tukang tambal ban. Di saat seperti ini, saya merasa sangat bersyukur hidup di Indonesia, dan bukan di Amerika atau negara-negara Eropa. Saya berani bertaruh, bisa setengah mati berharap mendapati tukang tambal ban pinggir jalan di negara-negara itu!

...

Setelah ban motor berbentuk sempurna kembali, dengan badan yang semakin menggigil saya melaju ke tempat kosan. Kemudian cepat-cepat mandi.

Tak lama kemudian, lida menelepon saya dan menyanggupi untuk menjemputnya di dekat mulut jalan Gerlong Girang. Waktu itu hampir maghrib ketika saya, lida dan Iden (yang mau mampir ke kosan untuk mengambil buku Madilognya) sampai ke kosan. Dan bisa dibilang, itulah terakhir kalinya saya menyentuh motor saya.

(bersambung ah...)