4 September 2005

[...] perutku mual

Sejak kemarin lusa, perutku terasa mual. Mungkin aku terlalu paksakan perutku untuk menampung sekian banyak makanan yang aku lahap ketika aku berkunjung ke rumah ibuku di Cibubur.

"Mungkin kamu terbiasa makan tidak teratur," begitu ibuku berpendapat.

Ya, bisa jadi. Karena, biasanya aku hanya makan sekali atau dua kali sehari, tanpa maag yang kambuh atau sakit perut berlebihan. Biasanya biasa-biasa saja. Tapi sekalinya makan banyak (maksudku, benar-benar banyak!), eh, malah mual terus-terusan.

Mual di perutku terasa pertama kali ketika aku, lida, adik dan ibuku sedang jalan-jalan ke pasar buku langka di TMII hari Sabtu ( Di sana, tak lama setelah aku minum teh botol Sosro, tiba-tiba badanku mengeluarkan keringat dingin. Perutku sakit bukan main, sakit yang dulu biasa kurasakan ketika maagku kambuh. Karena tak mau merusak suasana dan acara yang sudah kami agendakan, aku tahan saja rasa sakit itu. Padahal, sakitnya bukan main. Ingin rasanya aku berbaring saja, tak usah jalan-jalan lagi.

Untungnya, tak butuh terlalu lama untuk menemukan pedagang yang menjual obat maag. Lumayan, perutku sedikit terobati.

Yang sekarang membuatku kesal, meski sudah makan cukup, rasa mual itu belum juga hilang.. Mual.. Lebih baik aku tidur saja.