Mengapa Saya 'Berpolitik' (atau Memilih Rieke-Teten).

Setiap mendengar kata pilkada (pemilihan kepala daerah), saya pikir semua setuju bahwa kita akan langsung berpikir tentang partai politik dengan simbol-simbolnya (bendera warna-warni dan logo-logo partai, baliho, spanduk, poster, flyer) yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Pilkada juga erat kaitannya dengan janji para politikus.

Jujur saja, selama ini saya sering memandang "sinis" pemilu/pilkada. Saya, seperti mungkin juga banyak kawan-kawan yang saya kenal, menganggap apa yang dijanjikan pada pilkada hanyalah omong kosong, janji yang tidak diniatkan untuk dipenuhi.


Yang paham atau belajar politik (secara formal maupun otodidak), tentu tahu bahwa siapapun sosok yang dicalonkan dalam pilkada tidak bisa lepas begitu saja dari "arahan" partai politik yang mengusungnya. Sementara, hampir tidak ada partai politik yang tidak terlibat kasus korupsi. Ada anggapan, kalaupun ada partai yang "bersih", mungkin karena tidak punya akses untuk korupsi, atau kasusnya belum terungkap.

Tapi bukan berarti saya tidak pernah ikut memilih dalam pemilu atau pilkada. Hanya saja, motif saya dalam menggunakan hak suara lebih sebagai 'langkah penyelamatan' agar yang terpilih bukan "yang rusak-rusak amat", atau "yang paling berpotensi menyalahgunakan kekuasaan", apalagi "yang cenderung fasis".


Sekarang, saya memandang Pilgub Jabar tahun ini secara berbeda, dan saya akan memilih pasangan Rieke-Teten. Mungkin ada teman-teman saya yang memandang "aneh" dengan kelakuan saya belakangan ini ("menyampah" di Twitter dan status di Facebook bernada promosi untuk Rieke-Teten), tapi saya maklum. Saya pun mungkin akan bersikap serupa jika melihat perilaku teman yang tidak seperti biasanya.

Saya terus jalan untuk mempromosikan Rieke-Teten, meskipun seringkali tidak mendapat respon atau komentar yang saya harapkan. Sekali lagi saya maklum, mungkin masih ada perbedaan cara pandang terhadap masalah ini. Yang perlu diketahui, saya bukan pendukung bayaran.

Mengapa?

Soal mengapa saya tiba-tiba "berpolitik" dan mendukung Rieke-Teten, ini beberapa alasan saya (sebenarnya lebih panjang, tapi saya coba pangkas):


Pertama, karena beberapa tahun belakangan saya semakin sering mengumpat (khususnya ketika sedang berkendara di jalan raya) soal jalan rusak yang semakin rusak, soal semrawutnya para pedagang yang tumpah ke badan jalan, soal oknum-oknum polisi yang masih saja minta "uang damai", soal petugas pelayanan publik yang ogah-ogahan melayani, soal pemadaman listrik yang semena-menalah, soal banyaknya orang miskinlah dan banyak lagi (nambah lieur mun dicaritakeun kabeh mah).

Saya merasa, umpatan saya tidak akan mengubah apapun. Dengan mengumpat (seringkali pada orang/pengendara lain di jalan yang mungkin tidak bersalah --mohon maafkan saya), memang ada sedikit perasaan lega karena sudah mengeluarkan energi kekesalan yang terpendam. Tapi, nyatanya umpatan saya tidak membuat perubahan (jalan-jalan tetap rusak, beberapa malah berubah menjadi kolam air ketika musim hujan).

Sering berkendara membuat saya cukup sering melihat betapa banyak hal yang diurus secara asal-asalan oleh pemerintah. Karena melihat hal semacam itu terus-menerus, saya semakin sadar bahwa saya perlu berbuat sesuatu yang lebih dari sekadar mengumpat atau marah-marah. Saya harus berpartisipasi dalam politik. Harus ada orang "bagus" yang bisa membersihkan kekacauan ini.


Kedua, dalam pilgub jabar tahun ini ada sosok yang lain daripada yang lain. Sosok yang dimaksud adalah Teten Masduki, seorang tokoh pemburu koruptor. Saya mulai sering mendengar nama Teten ketika pada awal 2000-an Indonesia Corruption Watch (ICW) yang dipimpinnya getol membeberkan kasus-kasus korupsi dan penyelewengan (jujur saja, pra tahun 1999 saya lebih senang mendengar musik cadas dibanding baca berita).

Dalam dunia aktivisme, awalnya Teten aktif di LSM yang berfokus pada HAM (Hak Asasi Manusia) dan buruh (1978-1990), aktif di YLBHI (1990-2000), kemudian ICW (mulai 1998), sebelum akhirnya pindah ke TII (Transparency International Indonesia), sebuah lembaga yang juga bergerak di bidang antikorupsi pada tahun 2009.

Bagi saya, sosok Teten tidak cuma "gagah" sebagai aktivis antikorupsi. Selama di ICW, Teten dikenal mendorong anak-anak muda yang cerdas dan idealis untuk tampil dan aktif mengambil peran (padahal, Teten sudah sinonim dengan ICW). Di ICW, anak muda diberi kesempatan. Dan bagi saya, ini menunjukkan betapa Teten bukanlah sosok yang gila kekuasaan.


Ketiga, tentu karena sosok Rieke Diah Pitaloka a.k.a Oneng. Meskipun saya sebut Rieke setelah Teten, bukan berarti sosok Rieke lebih cemen. Ini semata-mata karena saya mengenal sosok Teten terlebih dahulu.

Rieke sebenarnya adalah seorang aktivis juga. Dan meskipun nada yang cenderung negatif (si o'on) sering terlotar ketika orang membicarakan Rieke, pada kenyataannya Rieke adalah perempuan cerdas. Rieke menempuh pendidikan S-1nya di Sastra Belanda UI dan Filsafat (di STF Driyarkara), kemudian melanjutkan S-2 di Filsafat UI. Selain pernah bermain di beberapa film berkualitas seperti 'Berbagi Suami', si 'Oneng' juga menulis buku ('Renungan Kloset' dan 'Kekerasan Negara Menular Ke Masyarakat').

Di dunia politik, Rieke pernah menjabat Sekretaris Jenderal DPP PKB, sebelum akhirnya pindah ke PDIP. Ia kemudian menjadi anggota DPR dan menjadi anggota komisi IX (bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat).

Di luar itu banyak yang mungkin tak mengira, bahwa ketika menjadi anggota DPR, Rieke sering turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak kelas pekerja khususnya buruh. Bahkan, ia pernah turun demonstrasi ketika ia hamil tua.

Sampai saat ini banyak yang memandang Rieke sebagai semata "artis yang ikut2an nyalon". Saya tidak setuju. Rieke mungkin dikenal lebih dulu sebagai artis sinetron, tapi kesadaran dan kepedulian politik yang ia tunjukkan selama ini memperlihatkan bahwa dia tidak hanya sekadar menjadi anggota dewan yang cuma kerja di belakang meja. Bisa dikatakan, baginya "rapat tidak berakhir dengan rapat".

Dialog

Ada yang menarik dari kampanye Rieke-Teten selama ini. Mereka memang memasang spanduk, poster atau baliho, tapi iklan mereka di TV sangat sedikit. Mereka lebih memilih memperbanyak dialog dengan masyarakat dibandingkan memperbanyak "agitasi". Ini salah satu alasan mengapa mereka berbeda. Mereka mengambil resiko tidak dikenal publik dan memilih dialog, memilih pencerdasan dan bukan "cuci otak" dengan memutar iklan berulang-ulang.

Gabungan sosok Rieke-Teten menjadi semakin penting untuk hadir sebagai pemimpin dalam sistem yang korup. Dengan rekam jejak yang dimilikinya, saya yakin Rieke dan Teten akan mengubah wajah pemerintahan (Jawa Barat) yang biasa kita kenal. Saya yakin pasangan ini akan membuat pemerintahan lebih terbuka, lebih dialogis, membuat kebijakan yang tidak cuma berdasar "data resmi" dan turun langsung melihat kenyataan di lapangan, juga antikorupsi untuk memastikan pemerintahan berjalan tanpa intervensi "pemodal politik".

Nantinya, adalah keharusan untuk selalu mendesak dan mendukung Rieke-Teten membabat pihak-pihak yang tak sejalan dengan visi misi pemerintahan baru dan bersih. Jika tidak, Rieke-Teten hanya akan terhisap ke dalam "cara main" yang korup.

Resiko

Mungkin resiko bagi saya yang mempromosikan Rieke-Teten adalah, bagaimana kalau Rieke-Teten ingkar janji? Saya tidak akan memberikan janji, karena modal saya adalah keyakinan. Jika Rieke-Teten ingkar janji, saya akan turut menggugat, karena kekuasaan harus selalu diawasi dan dikritisi. Keputusan untuk memilih atau tidak tetap ada pada diri masing-masing.

Dengan tulisan seadanya ini, mudah-mudahan saya bisa mengajak kawan-kawan saya untuk turut serta membawa perubahan. Sekecil apapun itu.

Referensi

Beberapa referensi menarik: