5 July 2012

Facebook akan Mati pada 2020?

Dua bulan lalu Facebook baru saja mengumumkan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) mereka. Dengan nilai $38 per lembar, penjualan 421,2 juta saham di penampilan perdananya telah membuat market value Facebook melambung menjadi 16 milyar dollar AS. Hal ini membuat Facebook menjadi perusahaan jejaring sosial termahal, lebih mahal dari hampir semua perusahaan yang tercatat di dalam Standard & Poor’s 500 Index.



Pendiri Facebook Mark Zuckerberg boleh tersenyum lebar atas berbagai peluang yang bisa dimanfaatkan Facebook, akan tetapi ia tampaknya perlu tetap berhati-hati dalam merencanakan arah pengembangan Facebook. Pasalnya pendiri Iron Capital Eric Jackson, memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan mengenai nasib situs jejaring sosial. “Dalam lima atau delapan tahun mendatang (tahun 2020) mereka akan hilang seperti juga Yahoo telah menghilang,” ujar Eric seperti dilansir situs Mashable.

Analisa Eric didasarkan pada pengamatannya pada kasus di mana meskipun Yahoo masih beroperasi dan mendapat keuntungan, tapi nilainya relatif sangat kecil, hanya 10% dari nilai pendapatannya pada tahun 2000. Eric menjelaskan, jika Facebook tidak bisa beradaptasi, maka kekuatan yang sekarang dimiliki Facebook bisa terus merosot akibat kemunculan mobile web yang semakin gencar.

Dengan kekuatan kapital Facebook yang sampai saat ini belum tertandingi oleh perusahaan teknologi lain, ramalan Eric tersebut bisa saja terdengar berlebihan. Tapi Eric berargumen bahwa meskipun Facebook bisa membeli perusahaan mobile, karakter situs Facebook yang “besar dan gemuk” belum cukup responsif untuk diakses melalui aplikasi bergerak (mobile app).

Langkah Facebook untuk membeli aplikasi popular berbagi-foto Instagram misalnya, masih dipandang sebagai upaya menyingkirkan penghalang pertumbuhan alih-alih sebagai potensi pengembangan perusahaan.

Lebih jauh, Eric memandang Facebook sebagai generasi kedua dari tiga generasi perusahaan internet modern. Ia berpendapat, generasi pertama adalah perusahaan yang menyelenggarakan portal yang mengorganisir dan mengagregasi berbagai sumber informasi seperti Google dan Yahoo. Generasi kedua, seperti Facebook, meraup keuntungan dari pemanfaatan web berkarakter sosial. Yang perlu dipertimbangkan Facebook adalah generasi ketiga, yang akan diisi oleh perusahaan-perusahaan yang tujuan utamanya adalah memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan dari pengguna mobile.

Eric menekankan bahwa modal atau kapital yang dimiliki sebuah perusahaan bukan penentu keberhasilan dalam beradaptasi menuju generasi selanjutnya. Menurutnya, generasi pertama tidak mampu menerjemahkan sukses yang mereka alami untuk masuk ke generasi kedua. Ia mencontohkan upaya Google untuk bergerak ke arah jejaring sosial dengan membuat Google Plus yang belum bisa menjadi kompetitor kuat Facebook. Facebook pun ia perkirakan akan melakukan upaya semacam itu untuk bergerak ke arah mobile.

Kalaupun Facebook belum cukup khawatir dengan ramalan “kematian” dari Eric Jackson, Facebook toh perlu tetap berhati-hati terhadap potensi menurunnya pendapatan mereka. Bulan kemarin Zynga -pembuat aplikasi games yang turut andil memberi 15% dari total pendapatan Facebook- telah mengumumkan rencana mereka untuk membuat jejaring sosialnya sendiri, meskipun ditujukan bagi para gamers.

Bagi yang hidupnya cukup "tergantung" pada Facebook, bersiap-siaplah.

Sumber: Mashable
Sumber gambar: Life is the Bubbles!