30 April 2012

Buku calon bacaan, pinjam dari Perpusda.

Di Perpusda Jabar saya menemukan buku terbitan 1999 yang belum pernah saya baca. Dan jelas, dia minta dibaca. Judulnya "Masyarakat Egaliter: Visi Islam" karya Louise Marlow. Hmm, tapi masih  ada 3 buku dan novel yang masih saya terlantarkan, terpaksalah buku ini masuk waiting list.

Masyarakat Egaliter Visi IslamBicara tentang Perpusda, akhir-akhir ini berkunjung ke Perpusda alias Perpustakaan Daerah menjadi kegiatan sesekali yang cukup menghibur. Selain karena di sana saya punya waktu yang lebih luang untuk membaca dan leluasa mencari bahan baca bertema perpustakaan, sebelumnya saya belum pernah ke Perpustakaan Umum.

Perpustakaan berskala besar yang pernah saya kunjungi barulah perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Setiabudhi, British Council di Institut Teknologi Bandung (ITB) di jalan Taman Sari, Universitas Parahyangan (Unpar) di Ciumbuleuit, dan perpustakaan Fakultas Filsafat (FF) Universitas Parahyangan (Unpar) di jalan Nias, di perpustakaan yang disebut terakhir ini saya pernah numpang pinjam buku lewat sang istri yang kebetulan dulu kuliah di sana. Koleksi buku di FF Unpar menurut saya adalah yang paling bagus di antara perpustakaan-perpustakaan tadi. Sekali lagi: paling bagus! Bikin deg-degan setiap kali menyusuri rak dan melihat nama-nama pengarangnya.

Jujur saja, meskipun berskala propinsi (Perpusda yang saya maksud adalah Perpustakaan Daerah, yang nama lengkap lembaganya adalah Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jawa Barat alias Bapusipda Jabar), ternyata koleksi milik Perpusda ini (setidaknya dari segi jumlah) tidak mengesankan jika dibandingkan dengan koleksi perguruan tinggi yang tadi saya sebut. Padahal, sejatinya sebuah perpustakaan daerah memiliki koleksi yang mencakup terbitan yang terbit di daerahnya.

Selain jumlah koleksi, kekurangan Perpusda adalah penataan bahan pustaka di rak (shelf) yang berantakan. Buku-buku dengan judul yang sama sering saya temukan berada di rak yang berbeda atau ditempatkan asal-asalan di antara buku dengan nomor panggil yang jauh berbeda. Dari kenyataan itu, saya berkesimpulan pustakawan tidak memantau sirkulasi buku di ruang koleksi sehingga pengguna perpustakaan bisa dengan seenaknya ambil buku dan menyimpannya di mana pun sesukanya. Karena alasan tersebut, tampaknya percuma jika saya mencari suatu judul melalui fasilitas OPAC yang ada di ruangan koleksi.

Meskipun begitu, saya melihat koleksi referensi di Perpusda ini cukup berharga. Berbagai koleksi surat kabar, majalah, produk hukum, bisa ditemukan di sini. Ini bisa menjadi sangat berharga bagi yang membutuhkan berbagai bahan penelitian.

Sementara itu, berantakannya susunan buku di rak ruang koleksi umum saya nikmati dengan menyusuri rak demi rak mencari judul-judul "aneh", mencari buku yang belum pernah dipinjam oleh siapapun, dan terutama mencari buku yang belum pernah saya baca.